Posted in

Revitalisasi Sekolah di Lebak Tekankan Transparansi, SMAN 2 Muncang Jadi Contoh Swakelola

Dok tampak gedung SMAN 2 Muncang, Kabupaten Lebak, yang telah direvitalisasi melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025 guna menunjang kenyamanan dan kualitas proses belajar mengajar.

LEBAK, BeritaSeputarBanten.comProgram Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025 tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan sekolah. Lebih dari itu, program ini juga memperkuat tata kelola pendidikan di daerah. SMAN 2 Muncang, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi salah satu sekolah yang berhasil memanfaatkan program tersebut secara efektif, transparan, dan partisipatif.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya memastikan sekolah memiliki sarana memadai sekaligus sistem pengelolaan yang akuntabel. Karena itu, revitalisasi sekolah diposisikan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh.

Alokasi Anggaran Dukung Peningkatan Sarana Sekolah

Sebagai tindak lanjut program revitalisasi, pemerintah menyalurkan anggaran sebesar Rp1.171.541.000 kepada SMAN 2 Muncang. Sekolah kemudian mengelola dana tersebut untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar.

Dengan dukungan anggaran tersebut, sekolah berupaya menjawab kebutuhan riil yang selama ini menjadi kendala pembelajaran. Selain itu, peningkatan fasilitas juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih layak, aman, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.

Melalui program revitalisasi, SMAN 2 Muncang membangun dan memperbaiki sejumlah fasilitas utama. Sekolah membangun ruang laboratorium komputer, ruang tata usaha, ruang UKS, ruang bimbingan konseling (BK), serta fasilitas toilet baru.

Seluruh fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung aktivitas akademik maupun nonakademik siswa. Dengan demikian, sekolah berharap proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan selaras dengan kebutuhan peserta didik.

Selain itu, penataan fasilitas baru turut menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tertib dan representatif. Kondisi ini dinilai penting untuk menunjang kenyamanan belajar sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, SMAN 2 Muncang memilih sistem swakelola. Kepala SMAN 2 Muncang, Jemi Nurhadi, menjelaskan bahwa Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) mengelola seluruh tahapan pekerjaan dengan pendampingan tim teknis perencana dan pengawas. Sekolah juga melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pembangunan.

“Program revitalisasi di SMAN 2 Muncang alhamdulillah dapat berjalan sesuai dengan perencanaan dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Jemi, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, sistem swakelola memberi ruang kontrol yang lebih besar kepada sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, pola ini tidak hanya menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, tetapi juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran negara.

Dukungan Pemerintah Berdampak Langsung bagi Siswa

Lebih lanjut, Jemi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolah dalam mengelola program revitalisasi.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan. Bantuan revitalisasi ini sangat berarti bagi kami dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi siswa,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa revitalisasi tidak hanya memperbaiki fisik bangunan sekolah. Sebaliknya, fasilitas yang lebih memadai juga meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta kenyamanan peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Fasilitas yang semakin lengkap tentu akan menumbuhkan semangat belajar siswa dan berdampak positif terhadap mutu pembelajaran di sekolah,” tambahnya.

Harapan Sekolah dan Tantangan Aksesibilitas

Saat ini, SMAN 2 Muncang memiliki 117 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Pihak sekolah optimistis peningkatan sarana dan prasarana akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri di wilayah Muncang.

Namun demikian, sekolah masih menghadapi tantangan pada aspek aksesibilitas. Kondisi jalan menuju sekolah dinilai perlu mendapat perhatian lebih agar aktivitas pendidikan dan mobilitas warga dapat berjalan lancar.

“Kami juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap perbaikan akses jalan menuju sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lebih optimal,” pungkasnya.

(Red)

You cannot copy content of this page