LEBAK, BeritaSeputarBanten..com – Jarak yang jauh dari pusat pemerintahan desa sering menjadi tantangan bagi masyarakat dalam mengakses berbagai layanan. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi warga Desa Sindangwangi, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, untuk menerima bantuan pangan pemerintah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Melalui skema distribusi yang melibatkan ketua RT di masing-masing wilayah, Pemerintah Desa Sindangwangi berhasil menyalurkan bantuan pangan periode Februari-Maret 2026 kepada 536 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Selasa (26/5/2026).
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat. Pasalnya, sebagian wilayah di Desa Sindangwangi memiliki akses yang cukup jauh dari kantor desa. Dengan sistem distribusi yang lebih dekat kepada warga, penerima manfaat tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang besar untuk mendapatkan bantuan.
Pemdes Sindangwangi Utamakan Kemudahan Akses bagi Warga
Pemerintah Desa Sindangwangi tidak hanya fokus pada ketepatan sasaran penerima bantuan. Lebih dari itu, pemerintah desa juga berupaya memastikan proses penyaluran berjalan mudah, cepat, dan menjangkau seluruh wilayah.
Karena itu, perangkat desa bersama para ketua RT membangun koordinasi sejak awal proses distribusi. Strategi tersebut terbukti mampu memperlancar penyaluran bantuan hingga ke wilayah yang berada cukup jauh dari pusat desa.
Kepala Desa Sindangwangi, Aup Ma’ruf, mengatakan pemerintah desa terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat penerima manfaat.
“Alhamdulillah, Pemerintah Desa Sindangwangi telah menyalurkan bantuan beras periode Februari–Maret kepada 536 KPM. Kami berharap bantuan ini dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari serta meringankan beban ekonomi keluarga penerima manfaat,” ujar Aup Ma’ruf.
Selain memastikan bantuan tersalurkan, pemerintah desa juga menjaga komunikasi dengan seluruh RT agar distribusi berjalan tanpa hambatan.
“Kami terus melakukan koordinasi dengan para RT agar penyaluran bantuan dapat berjalan efektif dan memudahkan masyarakat penerima manfaat, terutama warga yang berada di wilayah yang aksesnya cukup jauh menuju kantor desa,” tambahnya.
Menurut pemerintah desa, kolaborasi dengan para RT menjadi salah satu kunci keberhasilan penyaluran bantuan di wilayah yang memiliki kondisi geografis cukup menantang.
Kampung Palendeng Rasakan Manfaat Sistem Distribusi Melalui RT
Salah satu wilayah yang merasakan manfaat langsung dari pola distribusi tersebut adalah Kampung Palendeng. Lokasi kampung yang cukup jauh dari kantor desa membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan apabila mengambil bantuan secara mandiri.
Melihat kondisi itu, pemerintah desa menyalurkan bantuan melalui ketua RT setempat. Cara tersebut membuat masyarakat lebih mudah menerima bantuan tanpa harus melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Warga menilai kebijakan tersebut sangat membantu. Selain menghemat waktu, mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang relatif besar.
Agus Kusni, salah seorang penerima manfaat dari Kampung Palendeng, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan beras ini. Khusus untuk warga Kampung Palendeng, bantuan dibagikan melalui RT karena jarak ke kantor desa cukup jauh. Kalau harus mengambil sendiri ke kantor desa, ongkos pulang-pergi bisa mencapai sekitar Rp50 ribu. Dengan dibagikan melalui RT, masyarakat sangat terbantu dan tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang cukup besar,” kata Agus Kusni.
Selain beras, warga juga menerima bantuan minyak goreng yang menjadi kebutuhan penting dalam rumah tangga.
“Alhamdulillah, untuk bantuan kali ini kami menerima beras sebanyak 20 kilogram dan minyak goreng sebanyak 4 liter. Bantuan ini sangat membantu kebutuhan keluarga kami sehari-hari. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah menyalurkan bantuan tersebut,” ujar Agus Kusni.
Bantuan Pangan Perkuat Solidaritas Antarwarga
Menariknya, bantuan pangan yang diterima warga tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok. Program tersebut juga memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial yang masih tumbuh di lingkungan masyarakat.
Sebagian penerima manfaat memilih berbagi dengan warga lain yang belum masuk dalam daftar penerima bantuan. Sikap tersebut muncul dari kesadaran bersama untuk menjaga kebersamaan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Agus mengatakan budaya gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Palendeng.
“Di kampung kami, ada juga masyarakat yang tidak masuk sebagai penerima bantuan. Karena itu, sebagian KPM dengan sukarela menyisihkan atau membagikan sebagian bantuan yang diterimanya kepada warga yang tidak mendapatkan bantuan. Tujuannya agar mereka juga bisa merasakan manfaat dan kebersamaan di lingkungan kami tetap terjaga,” katanya.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa bantuan pemerintah tidak hanya membantu kebutuhan pangan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Warga Dukung Distribusi Bantuan Hingga ke Kampung
Selain menunjukkan solidaritas, masyarakat juga memberikan dukungan kepada para RT yang membantu proses pengangkutan bantuan dari kantor desa menuju kampung mereka.
Warga memahami medan dan jarak tempuh yang harus dilalui. Oleh sebab itu, mereka secara sukarela memberikan uang pengganti bensin sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya yang dilakukan RT.
“Kalau di kampung kami, tidak ada persoalan terkait ongkos pengangkutan beras. Justru masyarakat secara sukarela memberikan uang pengganti bensin kepada RT yang membantu mengambil dan mengantarkan beras dari kantor desa ke Kampung Palendeng. Itu bentuk kebersamaan dan kesepakatan warga, karena kami juga memahami jarak tempuhnya cukup jauh. Jadi masyarakat merasa terbantu dan tidak keberatan memberikan uang pengganti bensin secara sukarela,” ungkap Agus.
Kolaborasi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa keberhasilan program bantuan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi masyarakat.
Dengan tersalurkannya bantuan pangan kepada 536 KPM, Pemerintah Desa Sindangwangi berharap kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik. Selain itu, program tersebut juga diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat semangat gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat pedesaan di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak. (Red-BSB).
























